Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Berdamai Dengan Kehilangan (5)

Mungkin besok aku akan terlalu lelah menangis sehingga tidak akan sempat menulis. Mungkin juga kebalikannya. Aku terlalu lega sampai tidak kuasa bercerita. Tetapi malam ini aku hanya ingin menjadikannya sebagai pengenanganku atas kamu. Entah berapa alasan yang membuatku seharusnya berhenti mengenang, tetapi kali ini aku mesti. Dan tidak pernah aku rasakan waktu berlalu begini cepat. Bahwa kepergianmu sudah lewat hampir 40 hari. Dan aku masih mengingat kamu di dalam setiap hariku. Meskipun mungkin tidak semua orang melihatnya, tidak semua orang mengetahuinya. Aku selalu ingin beranjak. Tapi aku tidak punya alasan untuk beranjak. Aku masih tetap merasa bahagia meski cuma mengenangmu. Aku masih bisa tertawa lepas dan tersenyum selebar-lebarnya mesk setiap hari aku berkhayal tentang kita. Aku masih menjalani hidupku dengan seharusnya. Tetapi aku tahu sebenarnya aku tidak boleh. Seharusnya aku mesti melupakan masa depan kita. Seharusnya aku memandang masa depanku yang baru, yang tid...

Berdamai Dengan Kehilangan (4)

Hari ini seorang teman mengirimkan sms. Bilang kalau semalam dia mimpi kamu. Dan titip pesen buat aku supaya aku move on . Supaya aku nggak berlarut-larut dalam kesedihan. Haha. Is that true? Apa dia benar-benar menitipkan pesan itu? Timingnya terlalu tepat. Apa memang sekarang saatnya ?

Berdamai Dengan Kehilangan (3)

Sering aku berpikir, kapan aku harus move on ? Kapan aku harus berhenti mengatakan kalau aku merindukan dia? Kapan aku mesti berhenti dan membiarkan diriku sendiri melupakan, setidaknya berdeterminasi ke depan (lagi)? Kadang aku takut. Takut dianggap annoying  ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja? Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia....