Mungkin besok aku akan terlalu
lelah menangis sehingga tidak akan sempat menulis. Mungkin juga kebalikannya. Aku
terlalu lega sampai tidak kuasa bercerita. Tetapi malam ini aku hanya ingin
menjadikannya sebagai pengenanganku atas kamu. Entah berapa alasan yang
membuatku seharusnya berhenti mengenang, tetapi kali ini aku mesti.
Dan tidak pernah aku rasakan
waktu berlalu begini cepat. Bahwa kepergianmu sudah lewat hampir 40 hari. Dan aku
masih mengingat kamu di dalam setiap hariku. Meskipun mungkin tidak semua orang
melihatnya, tidak semua orang mengetahuinya. Aku selalu ingin beranjak. Tapi aku tidak punya alasan untuk beranjak. Aku masih tetap merasa bahagia meski cuma mengenangmu. Aku masih bisa tertawa lepas dan tersenyum selebar-lebarnya mesk setiap hari aku berkhayal tentang kita. Aku masih menjalani hidupku dengan seharusnya. Tetapi aku tahu sebenarnya aku tidak boleh.
Seharusnya aku mesti melupakan masa depan kita.
Seharusnya aku memandang masa depanku yang baru, yang tidak lagi bisa menggandeng tanganmu, yang tidak lagi bisa mencium aroma tubuhmu.
Tapi mungkin belum sekarang.
Aku hanya membutuhkan waktu. Dan maafkan aku karena itu tidak bisa sesingkat yang kamu harapkan. Jangan katakan bahwa aku berlarut-larut. Aku berusaha untuk mengeluarkanmu dari hatiku. Tetapi ternyata itu tidak semudah ketika aku memasukkannya dahulu.
Tenanglah, aku cuma butuh waktu.
Tolong jangan sedih dan menangis, atau merasa bersalah. Aku begini karena kamu begitu baik. Dan karena aku begitu sayang padamu.
Aku mohon kamu kembalilah, tunggu doa dariku datang memohonkan ampunan dan tempat paling nyaman bagimu. Dan berhentilah mengira bahwa aku tidak kuat menanggungnya. Kamu mesti ingat satu pesan yang kamu sampaikan sebelum kamu sakit, satu-satunya yang kamu inginkan dari aku selain hatiku, "Belajarlah untuk bersabar ya?"
Dan sekarang aku sedang melakukannya. Maka biarkan aku mengambil waktu secukupku. Jadi kamu tenanglah, di sana.
Komentar
Posting Komentar