Langsung ke konten utama

Berdamai Dengan Kehilangan (5)


Mungkin besok aku akan terlalu lelah menangis sehingga tidak akan sempat menulis. Mungkin juga kebalikannya. Aku terlalu lega sampai tidak kuasa bercerita. Tetapi malam ini aku hanya ingin menjadikannya sebagai pengenanganku atas kamu. Entah berapa alasan yang membuatku seharusnya berhenti mengenang, tetapi kali ini aku mesti.
Dan tidak pernah aku rasakan waktu berlalu begini cepat. Bahwa kepergianmu sudah lewat hampir 40 hari. Dan aku masih mengingat kamu di dalam setiap hariku. Meskipun mungkin tidak semua orang melihatnya, tidak semua orang mengetahuinya. Aku selalu ingin beranjak. Tapi aku tidak punya alasan untuk beranjak. Aku masih tetap merasa bahagia meski cuma mengenangmu. Aku masih bisa tertawa lepas dan tersenyum selebar-lebarnya mesk setiap hari aku berkhayal tentang kita. Aku masih menjalani hidupku dengan seharusnya. Tetapi aku tahu sebenarnya aku tidak boleh.
Seharusnya aku mesti melupakan masa depan kita.
Seharusnya aku memandang masa depanku yang baru, yang tidak lagi bisa menggandeng tanganmu, yang tidak lagi bisa mencium aroma tubuhmu.
Tapi mungkin belum sekarang.
Aku hanya membutuhkan waktu. Dan maafkan aku karena itu tidak bisa sesingkat yang kamu harapkan. Jangan katakan bahwa aku berlarut-larut. Aku berusaha untuk mengeluarkanmu dari hatiku. Tetapi ternyata itu tidak semudah ketika aku memasukkannya dahulu.
Tenanglah, aku cuma butuh waktu.
Tolong jangan sedih dan menangis, atau merasa bersalah. Aku begini karena kamu begitu baik. Dan karena aku begitu sayang padamu.
Aku mohon kamu kembalilah, tunggu doa dariku datang memohonkan ampunan dan tempat paling nyaman bagimu. Dan berhentilah mengira bahwa aku tidak kuat menanggungnya. Kamu mesti ingat satu pesan yang kamu sampaikan sebelum kamu sakit, satu-satunya yang kamu inginkan dari aku selain hatiku, "Belajarlah untuk bersabar ya?"
Dan sekarang aku sedang melakukannya. Maka biarkan aku mengambil waktu secukupku. Jadi kamu tenanglah, di sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai Dengan Kehilangan (6)

we met, we love, you died, i'll keep loving you . sounds so silly right ? but that's what keep running in my mind. do i have to forget him when i can be happy by remembering him? do i have to move on while by staying in our memories i can be more than happy? do i have to? Bagiku, kamu adalah dunia kecilku. Tempat pertama dimana aku bisa menjadi seutuhnya aku. Kamu adalah orang tuaku, keluargaku, temanku, sahabatku, musuhku, teman diskusiku, sainganku, suporterku, kekasihku . Kamu paket lengkap yang beruntung bisa aku dapatkan. Meskipun banyak yang menjelekkan aku karena hubungan kita, tapi aku bertahan dan tetap bahagia karena dukungan darimu. Karena kasih sayangmu. Dan masa depan yang berusaha keras kita rangkai berdua. Aku adalah perempuan paling bahagia di dunia. Karena memilikimu. Tapi aku juga perempuan paling tragis di dunia. Karena kehilanganmu. Selamanya. Seandainya kamu hanya direbut orang lain, aku bisa melakukan apa saja, apapun, untuk membuat kamu jatuh cinta la...

Berdamai Dengan Kehilangan

Ternyata nggak semudah teori yang aku pelajari dan aku baca selama ini. Iya, berusaha berdamai dengan kehilangan itu tidak semudah yang aku sugestikan pada diriku sendiri. Bagaimana untuk terbiasa tidak ada dia. Bagaimana untuk terbiasa tidak mengobrol padahal biasanya cuma dia teman ngobrol. Bagaimana rasa sepi yang tiba-tiba menyerang saat menyadari bahwa ketika semester baru dimulai, tidak akan sama lagi karena dia tidak lagi ada. Oh men, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan galau seperti ini. Melewati setiap malam sambil menangis sampai tidur. Ngomong nyerocos sama diri sendiri, dan berharap dia mendengar. Marah-marah karena minta waktu lebih tapi tak mungkin. It's so hard . Mungkin bukan sekedar sesimple move on. Tetapi membiasakan diri atas ketidakberadaan seseorang lah yang sebenarnya jauh lebih berat. Setidaknya buatku. Setelah tiga minggu kepergiannya dan aku baru merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana aku mesti ingat dia dan tidak menghubungkan itu semua dengan k...

Berdamai Dengan Kehilangan (2)

Beberapa hari terakhir, frekuensi menangisku semakin menurun. Berusaha untuk mengalihkannya pada memori-memori lucu kami berdua kemudian bersyukur telah melaluinya. Setidaknya kenangan yang kami berdua saling tinggalkan adalah sesuatu yang menyenangkan yang tidak semua hubungan memilikinya. Meskipun masih selalu teringat, tetapi aku bersyukur masih bisa mengingat dia dalam kebahagiaan... dan kerinduan, sebenarnya. 26 hari semenjak kepergianmu. Dan aku masih selalu ingin memakai foto kita berdua sebagai wallpaper, avatar, atau apapun itu. Hanya saja aku tidak ingin membuat orang lain merasakan kesedihanku. Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi i have to deal it with myself.  Aku harus menyelesaikannya dengan diriku sendiri dulu. Mungkin kadang aku butuh bercerita, butuh menulis, tetapi sebenarnya hal terbesar yang terjadi adalah antara aku dan keputusanNya. Dan aku tidak ingin ada orang lain di tengah-tengahnya. Hari ini aku berusaha sebaik mungkin untuk memunguti kenangan-kenanga...