Sering aku berpikir, kapan aku harus move on? Kapan aku harus berhenti mengatakan kalau aku merindukan dia? Kapan aku mesti berhenti dan membiarkan diriku sendiri melupakan, setidaknya berdeterminasi ke depan (lagi)?
Kadang aku takut. Takut dianggap annoying ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja?
Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia. Namun sayangnya sekarang hanyalah milikku sendiri. Aku terus berbicara sendiri. Tapi dia jauh di sana, hanya tersenyum dan tidak memiliki keberhakan lagi atas posisinya dalam 'kami'. Dan aku tenggelam dalam renungan panjang tentang bagaimana aku mesti bersikap. Karena aku tidak ingin melukai kenangan kami. Aku sangat menyayangi dia. Sama banyak, atau mungkin lebih banyak daripada aku menyayangi diriku sendiri. Dan aku bukanlah perempuan jahat yang cepat melupakan. Aku selalu mengingatnya, tetapi akupun punya logika. Ketika hidupnya di dunia sudah berhenti, tidak berarti hidupku juga. Aku harus terus berjalan. Karena dia pasti juga tidak akan suka ketika aku terus-terusan menangisinya dalam kepiluan.
Tetapi satu hal yang terus menjadi pertanyaanku sampai saat ini, kapan waktu yang pantas bagiku untuk menyatakan kesendirianku? Menyatakan pada dunia bahwa aku siap menjalani semuanya tanpa dia. Ikhlas merelakan kepergiannya dan mempersilakan kemungkinan baru bagiku untuk bertemu orang lain. Satu bulankah? Dua bulan? Enam bulan? Satu tahun?
Aku tahu itu pertanyaan bodoh. Tapi ya, itulah yang sungguh menggangguku. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang menyayangi dia dengan membiarkan diriku terlihat terlalu cepat melupakannya. Tapi aku juga tidak ingin melukai hati orang yang kelak akan menjadi pendampingku dengan tetap menjadikan dia sebagai yang utama, yang paling pertama di dalam hatiku.
Yah meskipun faktanya, saat ini aku tidak mungkin melupakan dia. Setiap hal kecil bahkan masih mengingatkan aku tentang dia. Tapi aku bahagia. Aku bersyukur dengan hidupku, bagaimanapun itu jalannya.
Ah entahlah.... Mungkin aku harus lebih waspada dan menanti tandanya. Tanda bahwa aku mesti pergi dan berlari ke depan. Tidak perlu terlalu memikirkan pandangan orang. Tuhan tahu, dan dia juga pasti tahu, aku tulus menyayanginya. Dan dia pasti menginginkan aku bahagia. :' )
Kadang aku takut. Takut dianggap annoying ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja?
Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia. Namun sayangnya sekarang hanyalah milikku sendiri. Aku terus berbicara sendiri. Tapi dia jauh di sana, hanya tersenyum dan tidak memiliki keberhakan lagi atas posisinya dalam 'kami'. Dan aku tenggelam dalam renungan panjang tentang bagaimana aku mesti bersikap. Karena aku tidak ingin melukai kenangan kami. Aku sangat menyayangi dia. Sama banyak, atau mungkin lebih banyak daripada aku menyayangi diriku sendiri. Dan aku bukanlah perempuan jahat yang cepat melupakan. Aku selalu mengingatnya, tetapi akupun punya logika. Ketika hidupnya di dunia sudah berhenti, tidak berarti hidupku juga. Aku harus terus berjalan. Karena dia pasti juga tidak akan suka ketika aku terus-terusan menangisinya dalam kepiluan.
Tetapi satu hal yang terus menjadi pertanyaanku sampai saat ini, kapan waktu yang pantas bagiku untuk menyatakan kesendirianku? Menyatakan pada dunia bahwa aku siap menjalani semuanya tanpa dia. Ikhlas merelakan kepergiannya dan mempersilakan kemungkinan baru bagiku untuk bertemu orang lain. Satu bulankah? Dua bulan? Enam bulan? Satu tahun?
Aku tahu itu pertanyaan bodoh. Tapi ya, itulah yang sungguh menggangguku. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang menyayangi dia dengan membiarkan diriku terlihat terlalu cepat melupakannya. Tapi aku juga tidak ingin melukai hati orang yang kelak akan menjadi pendampingku dengan tetap menjadikan dia sebagai yang utama, yang paling pertama di dalam hatiku.
Yah meskipun faktanya, saat ini aku tidak mungkin melupakan dia. Setiap hal kecil bahkan masih mengingatkan aku tentang dia. Tapi aku bahagia. Aku bersyukur dengan hidupku, bagaimanapun itu jalannya.
Ah entahlah.... Mungkin aku harus lebih waspada dan menanti tandanya. Tanda bahwa aku mesti pergi dan berlari ke depan. Tidak perlu terlalu memikirkan pandangan orang. Tuhan tahu, dan dia juga pasti tahu, aku tulus menyayanginya. Dan dia pasti menginginkan aku bahagia. :' )
Komentar
Posting Komentar