Langsung ke konten utama

Berdamai Dengan Kehilangan (3)

Sering aku berpikir, kapan aku harus move on? Kapan aku harus berhenti mengatakan kalau aku merindukan dia? Kapan aku mesti berhenti dan membiarkan diriku sendiri melupakan, setidaknya berdeterminasi ke depan (lagi)?
Kadang aku takut. Takut dianggap annoying ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja?
Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia. Namun sayangnya sekarang hanyalah milikku sendiri. Aku terus berbicara sendiri. Tapi dia jauh di sana, hanya tersenyum dan tidak memiliki keberhakan lagi atas posisinya dalam 'kami'. Dan aku tenggelam dalam renungan panjang tentang bagaimana aku mesti bersikap. Karena aku tidak ingin melukai kenangan kami. Aku sangat menyayangi dia. Sama banyak, atau mungkin lebih banyak daripada aku menyayangi diriku sendiri. Dan aku bukanlah perempuan jahat yang cepat melupakan. Aku selalu mengingatnya, tetapi akupun punya logika. Ketika hidupnya di dunia sudah berhenti, tidak berarti hidupku juga. Aku harus terus berjalan. Karena dia pasti juga tidak akan suka ketika aku terus-terusan menangisinya dalam kepiluan.
Tetapi satu hal yang terus menjadi pertanyaanku sampai saat ini, kapan waktu yang pantas bagiku untuk menyatakan kesendirianku? Menyatakan pada dunia bahwa aku siap menjalani semuanya tanpa dia. Ikhlas merelakan kepergiannya dan mempersilakan kemungkinan baru bagiku untuk bertemu orang lain. Satu bulankah? Dua bulan? Enam bulan? Satu tahun?
Aku tahu itu pertanyaan bodoh. Tapi ya, itulah yang sungguh menggangguku. Aku tidak ingin melukai orang-orang yang menyayangi dia dengan membiarkan diriku terlihat terlalu cepat melupakannya. Tapi aku juga tidak ingin melukai hati orang yang kelak akan menjadi pendampingku dengan tetap menjadikan dia sebagai yang utama, yang paling pertama di dalam hatiku.
Yah meskipun faktanya, saat ini aku tidak mungkin melupakan dia. Setiap hal kecil bahkan masih mengingatkan aku tentang dia. Tapi aku bahagia. Aku bersyukur dengan hidupku, bagaimanapun itu jalannya.

Ah entahlah.... Mungkin aku harus lebih waspada dan menanti tandanya. Tanda bahwa aku mesti pergi dan berlari ke depan. Tidak perlu terlalu memikirkan pandangan orang. Tuhan tahu, dan dia juga pasti tahu, aku tulus menyayanginya. Dan dia pasti menginginkan aku bahagia. :' )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai Dengan Kehilangan (6)

we met, we love, you died, i'll keep loving you . sounds so silly right ? but that's what keep running in my mind. do i have to forget him when i can be happy by remembering him? do i have to move on while by staying in our memories i can be more than happy? do i have to? Bagiku, kamu adalah dunia kecilku. Tempat pertama dimana aku bisa menjadi seutuhnya aku. Kamu adalah orang tuaku, keluargaku, temanku, sahabatku, musuhku, teman diskusiku, sainganku, suporterku, kekasihku . Kamu paket lengkap yang beruntung bisa aku dapatkan. Meskipun banyak yang menjelekkan aku karena hubungan kita, tapi aku bertahan dan tetap bahagia karena dukungan darimu. Karena kasih sayangmu. Dan masa depan yang berusaha keras kita rangkai berdua. Aku adalah perempuan paling bahagia di dunia. Karena memilikimu. Tapi aku juga perempuan paling tragis di dunia. Karena kehilanganmu. Selamanya. Seandainya kamu hanya direbut orang lain, aku bisa melakukan apa saja, apapun, untuk membuat kamu jatuh cinta la...

Oh How I Miss You!

How I miss our conversation. About me, about you, about anything. How I miss our late night chat when you accompanied me do nothing. How I miss when you suddenly come if I said I miss you. How I miss the look in your eyes when I laugh hard because of you. How I miss the days we spent together. How I miss to be wherever with you, to be recognized as a couple by people. How I miss to read your super cheesy texts. How I miss to hear you said that you miss me as much as I am. How I miss your jokes, your encouragement towards my wish. How you support me to be a shoe stylist. How I miss our memories. How I miss your smell. But now even I said it million times, you won't ever be there anymore. I am so afraid that I'll be forever sad when you were gone. But now I'm more afraid to be happy and forget about you. How I am supposed to let someone take your place? I am afraid that I will forget you. And make you feel lonely. But my life's keep going. And I can't ...

Berdamai Dengan Kehilangan (5)

Mungkin besok aku akan terlalu lelah menangis sehingga tidak akan sempat menulis. Mungkin juga kebalikannya. Aku terlalu lega sampai tidak kuasa bercerita. Tetapi malam ini aku hanya ingin menjadikannya sebagai pengenanganku atas kamu. Entah berapa alasan yang membuatku seharusnya berhenti mengenang, tetapi kali ini aku mesti. Dan tidak pernah aku rasakan waktu berlalu begini cepat. Bahwa kepergianmu sudah lewat hampir 40 hari. Dan aku masih mengingat kamu di dalam setiap hariku. Meskipun mungkin tidak semua orang melihatnya, tidak semua orang mengetahuinya. Aku selalu ingin beranjak. Tapi aku tidak punya alasan untuk beranjak. Aku masih tetap merasa bahagia meski cuma mengenangmu. Aku masih bisa tertawa lepas dan tersenyum selebar-lebarnya mesk setiap hari aku berkhayal tentang kita. Aku masih menjalani hidupku dengan seharusnya. Tetapi aku tahu sebenarnya aku tidak boleh. Seharusnya aku mesti melupakan masa depan kita. Seharusnya aku memandang masa depanku yang baru, yang tid...