Langsung ke konten utama

Oh How I Miss You!

How I miss our conversation. About me, about you, about anything.
How I miss our late night chat when you accompanied me do nothing.
How I miss when you suddenly come if I said I miss you.
How I miss the look in your eyes when I laugh hard because of you.
How I miss the days we spent together.
How I miss to be wherever with you, to be recognized as a couple by people.
How I miss to read your super cheesy texts.
How I miss to hear you said that you miss me as much as I am.
How I miss your jokes, your encouragement towards my wish. How you support me to be a shoe stylist.
How I miss our memories.
How I miss your smell.
But now even I said it million times, you won't ever be there anymore.
I am so afraid that I'll be forever sad when you were gone.
But now I'm more afraid to be happy and forget about you.
How I am supposed to let someone take your place?
I am afraid that I will forget you. And make you feel lonely.
But my life's keep going. And I can't keep waiting, while you were so far away in front of me.
And maybe I'll just keep missing you.
And hoping for someone to accept you in my memories. And still want to take your place.
But really, you are so special that I don't even want to forget you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai Dengan Kehilangan

Ternyata nggak semudah teori yang aku pelajari dan aku baca selama ini. Iya, berusaha berdamai dengan kehilangan itu tidak semudah yang aku sugestikan pada diriku sendiri. Bagaimana untuk terbiasa tidak ada dia. Bagaimana untuk terbiasa tidak mengobrol padahal biasanya cuma dia teman ngobrol. Bagaimana rasa sepi yang tiba-tiba menyerang saat menyadari bahwa ketika semester baru dimulai, tidak akan sama lagi karena dia tidak lagi ada. Oh men, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan galau seperti ini. Melewati setiap malam sambil menangis sampai tidur. Ngomong nyerocos sama diri sendiri, dan berharap dia mendengar. Marah-marah karena minta waktu lebih tapi tak mungkin. It's so hard . Mungkin bukan sekedar sesimple move on. Tetapi membiasakan diri atas ketidakberadaan seseorang lah yang sebenarnya jauh lebih berat. Setidaknya buatku. Setelah tiga minggu kepergiannya dan aku baru merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana aku mesti ingat dia dan tidak menghubungkan itu semua dengan k...

Berdamai Dengan Kehilangan (2)

Beberapa hari terakhir, frekuensi menangisku semakin menurun. Berusaha untuk mengalihkannya pada memori-memori lucu kami berdua kemudian bersyukur telah melaluinya. Setidaknya kenangan yang kami berdua saling tinggalkan adalah sesuatu yang menyenangkan yang tidak semua hubungan memilikinya. Meskipun masih selalu teringat, tetapi aku bersyukur masih bisa mengingat dia dalam kebahagiaan... dan kerinduan, sebenarnya. 26 hari semenjak kepergianmu. Dan aku masih selalu ingin memakai foto kita berdua sebagai wallpaper, avatar, atau apapun itu. Hanya saja aku tidak ingin membuat orang lain merasakan kesedihanku. Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi i have to deal it with myself.  Aku harus menyelesaikannya dengan diriku sendiri dulu. Mungkin kadang aku butuh bercerita, butuh menulis, tetapi sebenarnya hal terbesar yang terjadi adalah antara aku dan keputusanNya. Dan aku tidak ingin ada orang lain di tengah-tengahnya. Hari ini aku berusaha sebaik mungkin untuk memunguti kenangan-kenanga...

Berdamai Dengan Kehilangan (3)

Sering aku berpikir, kapan aku harus move on ? Kapan aku harus berhenti mengatakan kalau aku merindukan dia? Kapan aku mesti berhenti dan membiarkan diriku sendiri melupakan, setidaknya berdeterminasi ke depan (lagi)? Kadang aku takut. Takut dianggap annoying  ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja? Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia....