Langsung ke konten utama

tentang kehilangan

cerita ini agak sedih. tapi jangan nangis dulu. ini hidup saya, and i'm okay with it.

sekitar 2,5 tahun yang lalu, saya masuk kuliah. saat itu saya baru diputusin sama mantan. desperate, kurus kering, masuk di kampus yang nggak saya ingini, what would be the best word to describe me? unlucky. hahaha. but who knows what will happen next? Allah. dan sayapun berusaha untuk menjalani hidup saya seperti ababil pada umumnya. galau, labil, insecure. tetapi ternyata Tuhan punya skenario mahalain buat saya. i met him. that handsome guy you have a crush on because they're just good looking. teman sekelas, seangkatan. lucu aja gitu. karena dia ganteng, mirip afgan. sumpah gak bohong. dan saya juga cuma iseng aja tanpa tendensi apa-apa, hello if you forget, saya kan baru diputusin.
tapi kayaknya saya punya kemampuan untuk membuat orang yang saya inginkan memahami dan terjerat dalam tidak-ada-pilihan-lain-selain-kamu. and when college just started in October, on his birthday, he ask me : would you be my wife? ehm, calon lebih tepatnya. -_- saat itu saya cuma "Tuhan punya rencana apalagi nih??" tapi ya saya terima juga sih, hahahaha. sembilan hari kemudian. YEAH NINE DAYS LATER!

he's so perfect that you can't ask for more than just him :')
he's so good looking, good hearted, he's so understanding and more than patient towards me. dia bener-bener kayak laki-laki dalam film drama romantis. menghujaniku dengan kado, perhatian, anything i want. berkebalikan banget sama hubungan sebelumnya -_- dia enggak pernah marah, dia cemburu dengan cara paling manis yang pernah saya tau. dan dia nggak suka pisah sama saya sebentarpun.

tapi memang harusnya saya curiga. adakah kisah cinta yang terlalu perfect gitu? and boom! tujuh bulan lalu dia sakit cukup parah. dont ask me why. and the second boom! he died a couple days ago :')
in this past seven months, i just barely meet him. we celebrate our 2nd anniversary while he laid on the bed because he's everywhere sick. but i still believe that i will be his bride, someday. i have faith. that he will be fine. that our plans will work. but actually, it didnt....
i'm so screwed. i feel like my heart being grabbed and never been there. oke lebay mungkin tapi rasanya memang seperti itu.
knowing that someone have gone so far away when you're really rely on him is like being dragged along bumpy road while you have no safety aid. i need sometimes to back to reality. to accept his death.
now that i have found my way, i gladly say goodbye to him. although i can't be his bride and he couldn't be my groom, i couldn't get married to him, but i'm grateful that i met him. thanks to him that i believe that i deserve to be loved. thanks to him that i grown up so much. and thanks to him that i could love my life so sincerely.

goodbye, uncometruegroom :') may you rest so well in there.
i love you, but i still have to move on dearie. so please don't be jealous :p

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdamai Dengan Kehilangan

Ternyata nggak semudah teori yang aku pelajari dan aku baca selama ini. Iya, berusaha berdamai dengan kehilangan itu tidak semudah yang aku sugestikan pada diriku sendiri. Bagaimana untuk terbiasa tidak ada dia. Bagaimana untuk terbiasa tidak mengobrol padahal biasanya cuma dia teman ngobrol. Bagaimana rasa sepi yang tiba-tiba menyerang saat menyadari bahwa ketika semester baru dimulai, tidak akan sama lagi karena dia tidak lagi ada. Oh men, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan galau seperti ini. Melewati setiap malam sambil menangis sampai tidur. Ngomong nyerocos sama diri sendiri, dan berharap dia mendengar. Marah-marah karena minta waktu lebih tapi tak mungkin. It's so hard . Mungkin bukan sekedar sesimple move on. Tetapi membiasakan diri atas ketidakberadaan seseorang lah yang sebenarnya jauh lebih berat. Setidaknya buatku. Setelah tiga minggu kepergiannya dan aku baru merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana aku mesti ingat dia dan tidak menghubungkan itu semua dengan k...

Berdamai Dengan Kehilangan (2)

Beberapa hari terakhir, frekuensi menangisku semakin menurun. Berusaha untuk mengalihkannya pada memori-memori lucu kami berdua kemudian bersyukur telah melaluinya. Setidaknya kenangan yang kami berdua saling tinggalkan adalah sesuatu yang menyenangkan yang tidak semua hubungan memilikinya. Meskipun masih selalu teringat, tetapi aku bersyukur masih bisa mengingat dia dalam kebahagiaan... dan kerinduan, sebenarnya. 26 hari semenjak kepergianmu. Dan aku masih selalu ingin memakai foto kita berdua sebagai wallpaper, avatar, atau apapun itu. Hanya saja aku tidak ingin membuat orang lain merasakan kesedihanku. Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi i have to deal it with myself.  Aku harus menyelesaikannya dengan diriku sendiri dulu. Mungkin kadang aku butuh bercerita, butuh menulis, tetapi sebenarnya hal terbesar yang terjadi adalah antara aku dan keputusanNya. Dan aku tidak ingin ada orang lain di tengah-tengahnya. Hari ini aku berusaha sebaik mungkin untuk memunguti kenangan-kenanga...

Berdamai Dengan Kehilangan (3)

Sering aku berpikir, kapan aku harus move on ? Kapan aku harus berhenti mengatakan kalau aku merindukan dia? Kapan aku mesti berhenti dan membiarkan diriku sendiri melupakan, setidaknya berdeterminasi ke depan (lagi)? Kadang aku takut. Takut dianggap annoying  ketika aku sering mengungkapkan kegalaukanku di media sosial. Tapi di sisi lain kadang juga logikaku sering mengajakku untuk memikirkan asumsi publik. Ketika aku terlihat bahagia dan baik-baik saja, apakah orang-orang akan berpikir bahwa aku jahat? Bahwa aku tidak setia karena menjalani hidupku dengan baik-baik saja? Di malam yang sepi ketika aku akan berangkat tidur, aku sering bercakap-cakap dengan dia. Bercakap dalam kediamanku dengannya. Membicarakan tentang kami, tentang hidupku selanjutnya. Bagaimana aku memposisikan diriku di kehidupan kami yang sudah telanjur seolah-olah menjadi satu. Aku adalah dia. Dan dia adalah aku. Maka ketika aku melakukan sesuatu, aku selalu berusaha mempertimbangkan dia, dan begitu juga dia....