Ternyata nggak semudah teori yang aku pelajari dan aku baca selama ini. Iya, berusaha berdamai dengan kehilangan itu tidak semudah yang aku sugestikan pada diriku sendiri. Bagaimana untuk terbiasa tidak ada dia. Bagaimana untuk terbiasa tidak mengobrol padahal biasanya cuma dia teman ngobrol. Bagaimana rasa sepi yang tiba-tiba menyerang saat menyadari bahwa ketika semester baru dimulai, tidak akan sama lagi karena dia tidak lagi ada. Oh men, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan galau seperti ini. Melewati setiap malam sambil menangis sampai tidur. Ngomong nyerocos sama diri sendiri, dan berharap dia mendengar. Marah-marah karena minta waktu lebih tapi tak mungkin. It's so hard. Mungkin bukan sekedar sesimple move on. Tetapi membiasakan diri atas ketidakberadaan seseorang lah yang sebenarnya jauh lebih berat. Setidaknya buatku.
Setelah tiga minggu kepergiannya dan aku baru merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana aku mesti ingat dia dan tidak menghubungkan itu semua dengan keabsenannya dalam hidupku. Tetapi nyatanya aku selalu menghubungkannya secara otomatis. Aku benar-benar merasa lost! Feels like I am somewhere I don't even know the name. Aku pingin minta tolong. Tapi nggak tahu ke siapa dan minta tolong apa. Aku berusaha mensyukuri perhatian dari orang-orang di sekitarku, but in fact it makes me more sad. Bahwa orang lainpun ternyata juga mengingatkanku pada dia. Oh men. I have to stop. I'm just twenty. I can't be this miserable. I have future. I have so many things lay on my hand. I have to do something... i really don't know.
Ini nggak semudah estimasiku. Ya, perasaan kan memang tidak bisa diestimasi. Dan mungkin aku tertekan karena berusaha 'sok' tegar. Dan aku sekarang berniat untuk mencoba berdamai dengan rasa kehilanganku. Bahwa aku akan mengakui (tidak hanya pada diriku sendiri) pada orang lain juga, bahwa aku sangat kehilangan dia. Aku kehilangan sesosok yang begitu dekat dengan hidupku selama ini. Dan itu tidak mudah.
Mungkin aku mesti menghargai rasa kehilangan ini. Jadi aku nggak perlu menangis sampai tidur lagi. Jadi aku bisa perlahan membiasakan diri dengan ketidakberadaannya. Dan suatu saat nanti berdamai dengan rasa kehilangan. Semoga.
Setelah tiga minggu kepergiannya dan aku baru merasakan kegalauan yang sangat. Bagaimana aku mesti ingat dia dan tidak menghubungkan itu semua dengan keabsenannya dalam hidupku. Tetapi nyatanya aku selalu menghubungkannya secara otomatis. Aku benar-benar merasa lost! Feels like I am somewhere I don't even know the name. Aku pingin minta tolong. Tapi nggak tahu ke siapa dan minta tolong apa. Aku berusaha mensyukuri perhatian dari orang-orang di sekitarku, but in fact it makes me more sad. Bahwa orang lainpun ternyata juga mengingatkanku pada dia. Oh men. I have to stop. I'm just twenty. I can't be this miserable. I have future. I have so many things lay on my hand. I have to do something... i really don't know.
Ini nggak semudah estimasiku. Ya, perasaan kan memang tidak bisa diestimasi. Dan mungkin aku tertekan karena berusaha 'sok' tegar. Dan aku sekarang berniat untuk mencoba berdamai dengan rasa kehilanganku. Bahwa aku akan mengakui (tidak hanya pada diriku sendiri) pada orang lain juga, bahwa aku sangat kehilangan dia. Aku kehilangan sesosok yang begitu dekat dengan hidupku selama ini. Dan itu tidak mudah.
Mungkin aku mesti menghargai rasa kehilangan ini. Jadi aku nggak perlu menangis sampai tidur lagi. Jadi aku bisa perlahan membiasakan diri dengan ketidakberadaannya. Dan suatu saat nanti berdamai dengan rasa kehilangan. Semoga.
Komentar
Posting Komentar